Hubungan Trump-Netanyahu Sempat Memanas, ini Penyebabnya

Sabtu 23-05-2026,14:50 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

Dalam panggilan telepon tersebut, Trump membeberkan rencana Washington untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi. Trump mengungkapkan bahwa pihak mediator tengah mengupayakan sebuah letter of intent atau surat pernyataan kehendak yang akan ditandatangani oleh AS dan Tehran. 

BACA JUGA:Iran Anggap Proposal Perdamaian AS Terlalu Berlebihan

BACA JUGA:AS Ditinggal Sekutu, Arab Saudi-Kuwait Pilih Iran

Langkah ini bertujuan untuk mengakhiri perang secara resmi dan memulai periode negosiasi selama 30 hari. 

Agenda perundingan tersebut nantinya akan mencakup program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Netanyahu bersikap skeptis terhadap jalur negosiasi ini. 

Dia justru mendesak agar operasi militer terus dilanjutkan demi menghancurkan kemampuan militer Iran secara lebih masif sekaligus melemahkan rezim di Tehran.

Di sisi lain, Trump memilih untuk memberikan kesempatan pada jalur diplomasi dalam beberapa hari ke depan, walau tetap menegaskan bahwa opsi militer tidak sepenuhnya hilang.

"Jika saya bisa menyelamatkan orang-orang dari kematian dengan menunggu beberapa hari, saya pikir itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan," kata Trump.

BACA JUGA:Respons AS, Iran Hujani Kapal Militer Amerika Serikat dengan Drone-Rudal

BACA JUGA:Selat Hormuz Kembali Normal PascaSaling Serang Iran-AS

Trump juga memperingatkan bahwa perang bisa kembali berlanjut "sangat cepat" jika AS tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari pihak Iran. Kendati sempat berselisih paham dengan Netanyahu mengenai Iran, Trump menegaskan bahwa hubungan mereka tetap baik dan koordinasi kedua negara tetap berjalan erat selama perang. 

Dengan nada optimistis, Trump bahkan mengklaim memiliki pengaruh yang besar terhadap Netanyahu. "Dia (Netanyahu) akan melakukan apa pun yang saya inginkan," papar Trump. (dri)

 

Kategori :