PATI, SUMEKS.CO - Penutupan Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berdampak pada kelangsungan pendidikan 250 santri.
Ya, sekitar 250 santri di Ponpes Ndholo Kusumo di Tlogowungu terancam terdampak kasus dugaan kekerasan seksual oleh kiai ponpes. Apalagi Kementerian Agama (Kemenag) telah merekomendasikan penutupan ponpes secara permanen.
Kepala DP3AP2KB Jawa Tengah, Ema Rachmawati, mengatakan para santri tersebut terdiri dari jenjang pendidikan TK hingga SMA. Sebagian santri merupakan yatim piatu yang selama ini mendapat pendidikan gratis di ponpes tersebut.
“Kurang lebih ada 250 santri putra dan putri,” kata Ema. Senin (4/5/2026).
BACA JUGA:Mulai Hari Ini Pemerintah Berlakukan PP Tunas, Kemenag Perkuat Literasi Digital Siswa dan Santri
BACA JUGA:Ngaku Keturunan Nabi, Pendiri Ponpes di Pati Memperkosa Santriwati
Skenario relokasi santri
Ia menyebut pemerintah saat ini tengah menyiapkan skenario relokasi apabila pondok pesantren tersebut benar-benar ditutup. Koordinasi telah dilakukan dengan sejumlah pondok pesantren lain di wilayah Pati untuk menampung para santri.
Namun demikian, perhatian khusus diberikan kepada santri yatim piatu yang selama ini menggantungkan pendidikan dan kehidupan di pondok tersebut.
“Ada yang yatim piatu, ini yang harus benar-benar kita pikirkan ke depannya,” kata Ema.
Dia menegaskan, dalam situasi apapun, keberlangsungan pendidikan anak-anak harus tetap menjadi prioritas.
BACA JUGA:Personel Polda Sumsel Tadarus Al-Qur’an Bersama Santri Ponpes Selama Ramadan
BACA JUGA:Penguatan Ekonomi Rakyat, Baznas Ogan Ilir Lepas Program Santri Memberdayakan Desa
Sementara itu, dia juga membuka posko pengaduan bagi korban dugaan kekerasan seksual melalui UPTD di Pati.
“Kami sudah membuka posko aduan untuk siapa pun yang pernah menjadi korban agar bisa melapor,” ujarnya.
Dia menambakan, pihaknya siap memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari layanan psikologis hingga kebutuhan visum.