Kini, banyak alumninya yang sukses mendirikan usaha batik sendiri. Dia bangga karena Batik Siger tidak hanya menciptakan perajin, tetapi juga membuka jalan ekonomi baru bagi masyarakat.
BACA JUGA:BRI BO Kayu Agung Salurkan Zakat Melalui YBM BRI untuk Dua Pondok Pesantren di Kayu Agung
BACA JUGA:Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Jalin Kolaborasi dengan SOGO
Batik Siger hadir dengan misi memperkenalkan keindahan budaya Lampung lewat motif-motifnya.
Sekitar 80 persen penjualannya berada di Lampung, sementara sisanya menjangkau berbagai daerah di Indonesia melalui e-commerce.
Tak hanya memberdayakan masyarakat, Batik Siger juga dikenal dengan konsep ramah lingkungan.
Laila berusaha menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan sisa kain untuk membuat produk lain.
BACA JUGA:35 UMK Binaan Pusri dan BRI Mengikuti Pelatihan Manajemen Keuangan
BACA JUGA:Sinergi Pusriwuhuan Engineering dan Adhi Karya Gelar Doa Bersama untuk Pabrik Pusri IIIB
Dia menjelaskan bahwa sekitar 70% produksi sudah menggunakan pewarna alami, sedangkan untuk pewarna sintetis telah diterapkan sistem penyaringan limbah agar air buangan tetap netral.
Mereka berupaya semaksimal mungkin mengurangi penggunaan pewarna sintetis demi menjaga lingkungan, serta memiliki sistem penyerapan limbah agar air yang terbuang tidak mencemari lingkungan.
Komitmen ini mengantarkan Batik Siger meraih penghargaan Upakarti pada 2014 karena dampak positifnya terhadap lingkungan dan sosial.
Laila mengakui bahwa perkembangan Batik Siger tak lepas dari peran Program Rumah BUMN BRI.
Dia bercerita bahwa awal mula berkenalan dengan Rumah BUMN BRI adalah karena adanya imbauan dari pemerintah daerah agar UMKM di Lampung mengikuti program pembinaan demi perkembangan usahanya.