Jika kendaraan terasa melayang atau kehilangan grip, pengemudi diminta mengangkat kaki dari pedal gas tanpa melakukan pengereman mendadak, agar mobil dapat kembali mencengkeram jalan dengan aman.
Hal yang kerap salah dilakukan masyarakat adalah, menyalakan lampu hazard ketika hujan deras.
Pakar menjelaskan, yang benar adalah menyalakan lampu utama atau fog lamp.
Hazard hanya boleh digunakan saat kendaraan berhenti, bukan saat masih melaju, karena membuat pengendara lain salah menilai arah kendaraan.
Pengendara juga diminta lebih cermat menilai tinggi genangan. Jika terlihat ada mobil lain tersendat atau hampir mogok, itu pertanda area tersebut terlalu dalam untuk dilewati.
Batas aman genangan adalah setengah ban, untuk mobil kecil dan maksimal dua pertiga ban untuk kendaraan SUV.
Saat terpaksa melewati banjir, gunakan gigi rendah—baik pada mobil manual maupun matic—dan jaga putaran mesin tetap stabil tanpa gas-rem berulang.
Selain itu, pakar menyarankan untuk menghindari manuver menyalip ketika jalan basah. Air yang terpental bisa menutup pandangan dan membuat pengemudi salah mengukur jarak.
Jalan basah juga berpotensi menyembunyikan lubang yang tertutup air, sehingga pengendara diminta mengikuti jejak ban kendaraan lain untuk memastikan lintasan aman.
Jika kendaraan tiba-tiba tersendat atau mati akibat terendam, pengemudi dilarang keras menstarter ulang mesin.
Hal itu dapat menyebabkan water hammer, kerusakan parah pada mesin yang biayanya mencapai puluhan juta rupiah.
Setelah melewati genangan, rem juga perlu dikeringkan dengan cara menekan pedal rem secara perlahan beberapa kali.
Pada akhirnya, keselamatan adalah prioritas utama. Pakar menegaskan bahwa mengemudi di musim hujan bukan soal cepat sampai, melainkan memastikan semua penumpang selamat hingga tujuan.
Jika cuaca terlalu ekstrem, pengendara disarankan berhenti sejenak dan melanjutkan perjalanan setelah kondisi lebih memungkinkan.