Melalui acara ini, Tadut tidak hanya diperkenalkan, tetapi juga dipraktikkan langsung di hadapan peserta yang berjumlah sekitar 500 orang, terdiri dari penyuluh agama, majelis taklim, dan guru-guru se-Sumsel.
Antusiasme peserta pun luar biasa; banyak yang ikut mencoba bertadut bersama secara interaktif.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa budaya adalah jembatan keberagaman Indonesia.
Menurutnya, tradisi bukan sekadar warisan artistik, tetapi juga ruang perjumpaan antara nilai keagamaan dan kehidupan sosial.
“Bagi generasi muda, mengenal budaya berarti mengenal jati diri. Semakin akrab mereka dengan budaya, insya Allah semakin dekat pula mereka dengan Tuhannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sumsel, Syafitri Irwan, menyoroti pentingnya kegiatan pelestarian budaya di tengah derasnya arus digitalisasi dan pergeseran nilai.
Ia menekankan bahwa tradisi keagamaan dan tradisi lokal kini mulai memudar, sehingga kegiatan seperti Ngaji Budaya perlu diperluas, bahkan diintegrasikan ke kurikulum sekolah dan madrasah.
“Ini penting agar anak-anak kita tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai-nilai keislaman yang hidup di daerah ini,” ujarnya.
Acara ditutup dengan kolaborasi musik etnik khas Sumsel yang dinamis, dipadu pemaparan dan praktik Tadut oleh Vebri dan Isnayanti.
Penampilan Rejung Pesirah bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat bahwa Sumatera Selatan menyimpan kekayaan tradisi lisan yang patut terus dijaga.
Melalui momentum ini, Tadut bukan sekadar cerita masa lalu—tetapi menjadi bagian dari perjalanan budaya yang terus hidup untuk generasi masa kini dan mendatang.