Bukan Hanya Memadamkan Api, Gerakan Pesantren Hijau Bisa Bantu Cegah Karhutla Sumsel.
KH Mudrik Qori: Pesantren Bisa Berperan dalam Pencegahan Karhutla di Sumatera Selatan--
Oleh: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A.
Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Sumatera Selatan memiliki kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya. Hutan, lahan gambut, sungai, rawa lebak, dan kawasan pertanian menopang berbagai kegiatan ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun, kekayaan tersebut juga menghadapi ancaman serius ketika musim kemarau tiba. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang, kualitas udara memburuk, dan masyarakat harus menanggung dampak yang tidak kecil.
Karhutla bukan semata-mata persoalan api yang harus dipadamkan. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola lahan, perubahan kondisi hidrologis, perilaku manusia, pengawasan, dan penegakan hukum.
Kekeringan memang dapat meningkatkan risiko kebakaran, tetapi besarnya dampak juga ditentukan oleh cara manusia memperlakukan lingkungan.
Ketika lahan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada kawasan yang rusak. Asap dapat menjalar ke permukiman, mengganggu kegiatan belajar, menurunkan produktivitas, dan membahayakan kesehatan masyarakat.
Mereka yang tidak memperoleh keuntungan dari pemanfaatan lahan pun ikut menanggung akibatnya.
Karena itu, karhutla harus dipandang sebagai persoalan bersama yang membutuhkan kerja lintas sektor. Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi keagamaan memiliki peran masing-masing.
Salah satu potensi yang layak dikembangkan ialah keterlibatan pesantren dalam membangun kesadaran ekologis dan memperkuat aksi nyata di tingkat komunitas.
Ketika Kerusakan Lingkungan Menjadi Persoalan Kemanusiaan
Salah satu ancaman kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan adalah partikel halus PM2.5. Partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat memasuki aliran darah. Paparan polusi partikel berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit pernapasan, gangguan kardiovaskular, dan kematian dini.
Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan kesehatan menjadi kelompok yang sangat rentan. Ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah, masyarakat bukan hanya kehilangan kenyamanan, tetapi juga menghadapi risiko kesehatan dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
Pengalaman kebakaran hutan dan lahan Indonesia pada 2015 menunjukkan besarnya konsekuensi ekonomi dari kerusakan lingkungan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
