Workshop Festival Pantun Kelakar Betok Palembang Angkat Humor Sehat dalam Budaya
Festival Pantun Kelakar Betok Palembang mengajak generasi muda belajar membuat pantun humor khas budaya Palembang.--
Workshop Festival Pantun Kelakar Betok Palembang Angkat Humor Sehat dalam Budaya Masyarakat
PALEMBANG, sumeks.co- Workshop ke-5 dalam rangkaian Festival Pantun Kelakar Betok Palembang digelar di Ruang Meeting Universitas Bina Darma Palembang, Rabu (12 Maret 2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi pantun khas Palembang sekaligus mengenalkan nilai humor sehat dalam kehidupan masyarakat.
Workshop tersebut menghadirkan akademisi sekaligus pemerhati sastra, Ernalida, Ph.D, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya bertajuk Pantun Kelakar Betok dan Humor Sehat dalam Masyarakat, ia menjelaskan bahwa pantun kelakar merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki fungsi lebih dari sekadar hiburan.
Menurutnya, pantun kelakar juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter, media kritik sosial yang santun, serta alat mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Pantun kelakar bukan hanya hiburan, tetapi juga cara masyarakat menyampaikan pesan moral dan kritik sosial secara halus dan penuh humor,” jelas Ernalida di hadapan peserta workshop.
BACA JUGA:Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBD Asah Kepemimpinan Lewat Latihan Dasar Organisasi
BACA JUGA:Industri Perhotelan Butuh Mental Tangguh, UBD Gelar PKM di Wyndham Opi Hotel
Upaya Lestarikan Pantun Khas Palembang. Workshop diawali dengan sambutan dari Dr. Ferry Kurniawan, M.Pd, selaku penyelenggara Festival Pantun Kelakar Betok Palembang.
Ferry menegaskan bahwa festival ini merupakan langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan tradisi pantun khas Palembang, khususnya pantun kelakar betok, agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Menurutnya, pantun kelakar mencerminkan kecerdasan budaya masyarakat Palembang yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Pantun kelakar bukan sekadar tradisi lisan, tetapi juga mencerminkan kecerdasan budaya masyarakat Palembang.
Melalui workshop ini kami berharap generasi muda dapat belajar mencipta dan mengembangkan pantun sebagai bagian dari identitas budaya daerah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
