Banner Pemprov

Dari Dapur Kue hingga Meja Belajar, Energi Matahari Hidupkan Harapan Desa Sukakarya

Dari Dapur Kue hingga Meja Belajar, Energi Matahari Hidupkan Harapan Desa Sukakarya

Pembangunan PLTS di Desa Sukakarya yang dilakukan CID PEP Pendopo Field, memberikan dampak positif bagi perekonomian hingga kehidupan sosial masyarakat sekitar. --

PRABUMULIH, SUMEKS.CO - "Dulu kami terbebani tagihan, kini kami memanen harapan".

Kutipan puitis itu meluncur dari bibir Suhartini, 45 tahun, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati. Siang itu, matahari sedang terik saat tangan ibu-ibu KWT sibuk mengaduk adonan kue kering di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Namun, terik matahari kini tak lagi membuat mereka kepanasan, melainkan mendatangkan cuan.

KWT Melati yang beranggotakan 30 orang perempuan ini kini mampu menghasilkan Rp8 juta per bulan dari usaha tersebut. Namun, pencapaian ini tak selalu berjalan mulus.

Masih lekat di ingatan ibu-ibu KWT Melati saat produksi kue kerap lumpuh total karena aliran listrik yang tak menentu di desa mereka. Pesanan menumpuk, padahal adonan sudah terlanjur jadi dan tenggat pengiriman semakin dekat.

BACA JUGA:Dukung Ketahanan Energi, PHR Zona 4 Bangun Sinergi dengan Media

BACA JUGA:SEJARAH! Hasilkan 30 Ribu Barel Minyak Per Hari, PHR Zona 4 Catatkan Rekor Produksi Tertinggi Sejak 2021

"Kami sering waswas, apakah usaha ini benar-benar bisa bertahan? Kalau mati lampu, genset solar jadi satu-satunya andalan," kenang Suhartini.

Celakanya, tagihan listrik dan solar ini menyedot kas hingga Rp2 juta per bulan. Usaha kecil mereka nyaris tumbang dijerat biaya operasional.

Melihat kegigihan tersebut, PEP Pendopo Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 turun tangan. Mereka memfasilitasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 5 kWh di Desa Sukakarya pada akhir 2024. Agar fasilitas ini bertahan lintas generasi, seorang warga desa bernama Sardiono turut dikirim mengikuti pelatihan sertifikasi pemeliharaan PLTS.

Kehidupan desa itu perlahan berubah terang. Warga tak lagi cemas bergantung pada listrik yang sering padam. Mesin pengaduk dan oven produksi kue berjalan lancar ditopang energi matahari. Tak ada lagi tagihan listrik Rp2 juta per bulan, tak perlu lagi menghirup asap genset bertenaga solar.

BACA JUGA:PEP Pendopo Field Latih Petani Benakat Minyak Belajar Menembus Pasar

BACA JUGA:Pertamina EP Pendopo Field Perkuat Pertanian Ramah Lingkungan Lewat Program Musi Rawas Sustainability

Perubahan ini tidak berhenti di dapur ibu-ibu KWT Melati, namun juga dirasakan manfaatnya ke rumah warga Desa Sukakarya. Saat pemadaman listrik bergilir terjadi di malam hari, warga tetap dapat beraktivitas. Cahaya lampu surya menerangi meja belajar sederhana tempat anak-anak mengerjakan tugas sekolah pada malam hari.

Yang tidak kalah penting, KWT Melati kini bertransformasi. Mereka tidak hanya pembuat kue, tapi mulai mengedukasi warga tentang pentingnya hemat energi. Di berbagai pertemuan desa, mereka menyisipkan diskusi tentang manfaat panel surya dan cara penggunaan listrik secara bijak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: