Banner Pemprov
Pemkot Baru

Generasi Muda Palembang Bisa Mencintai Teater Dulmuluk, Asalkan Mereka Diajak Ngomong Soal Ini?

Generasi Muda Palembang Bisa Mencintai Teater Dulmuluk, Asalkan Mereka Diajak Ngomong Soal Ini?

Talkshow Dulmuluk: Tantangan terkini, regenerasi dan revitalisasi diselenggarakan sumeks.co.--

SUMEKS.CO - Generasi muda Palembang bisa mencintai teater Dulmuluk, syaratnya mereka harus dilibatkan dan ditanya apa yang mereka harapkan dari kesenian Dulmuluk ini. 

Prof Farida mengaku kagum dengan pelaku seni Dulmuluk, kapanpun saat bersuara dia akan keluarkan dengan spontan. 

“Itulah yang terjadi. Jadi ini benar-benar aktor Dulmuluk, selalu jadi pangeran, selalu jadi raja. Enggak pernah jadi rakyat,” papar Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, M.Si, Dosen Unsri Prodi Sejarah saat Talkshow Dulmuluk SUMEKS.CO di Graha Pena, Kamis 12 Februari 2026.

Selain Prof Farida ada 2 pakar pembicara Talkshow Dulmuluk lainnya, yaitu Dr. Tri Puji Handayani, S.Pd., M.Sn (Pengkaji Seni) dan Randi Putra Ramadhan, S.Pd. (Seniman Dulmuluk).

Ini yang menurut Prof Farida menjadi awal kebangkitan Dulmuluk bahwa agar generasi muda dapat mencintai teater Dulmuluk harus melihat dari sisi mereka juga. 

“Apa yang mereka harapkan dan bisa tonton dari Dulmuluk ini?”, ujar dosen di Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsri sejak tahun 1987.

BACA JUGA:Hari Ini SUMEKS.CO Gelar Talkshow Dulmuluk: Tantangan Terkini, Regenerasi dan Revitalisasi Agar Terberdaya

BACA JUGA:Tri Puji Handayani Raih Gelar Doktor Seni Termuda di Palembang, Raih Predikat Cumlaude Lewat Kajian Dulmuluk

Prof Farida juga mencontohkan dirinya sebagai dosen yang tak hanya menyampaikan mata kuliah sejarah dan sudah menjadi bagian dari hidup.

“Bagaimana kami dan saya mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mendekatkan anak-anak muda ini pada sejarah dan budayanya sendiri,” jelas Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah ini. 

Karena ketika kita tahu dan mencintai budaya kita, otomatis akan memakainya dan otomatis kita akan merasa bangga untuk itu. 

“Ketika budaya kita diambil oleh pihak lain. Katakanlah negara tetangga kita. Tapi kita tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri, saya itu cinta enggak sih dengan kesenian dan budaya kita?,” ingatnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: